Senin, 03 Maret 2014

Golput, Menghukum Politikus Busuk?

Jika kamu sudah membaca apa itu Golput dan Tata Cara Perhitungan Suara Pemilu 2014, mestinya kamu akan berpikir ulang untuk Golput. Kenapa? karena sudah jelas bukan, Golput yang kamu lakukan untuk menghukum partai atau politikus busuk bisa jadi tidak berarti. Justru malah bisa jadi menguntungkan partai atau politisi yang ingin kamu hukum.

Meski tingkat golput/suara tidak sah di Indonesia mencapai 50% sekalipun, di Senayan tetap akan duduk manis 560 orang hasil Pemilu 2014, yang bisa saja 90% diantaranya wajah lama. Bagaimanapun mereka sudah lebih dikenal di masyarakat karena sering muncul di televisi, misalnya. 

Tak peduli meski terkenalnya itu karena berita pelesiran mereka ke luar negeri, pertengkaran mereka dengan kolega sesama anggota DPR, atau terkenal karena gigih membela rekan separtainya yang jadi tersangka suap/korupsi. Caleg incumbent lebih berpeluang jadi, meski perolehan suara mereka masih jauh dari BPP. Makin tinggi golput, makin murah dan makin diobral harga kursi DPR dan DPRD.

LANTAS, BAGAIMANA MENGHUKUM PARPOL ATAU POLITIKUS BUSUK?

Tak ada jalan lain kalau anda ingin “menghukum” parpol yang dianggap tidak aspiratif, tak menjalankan amanah rakyat, banyak kadernya yang korup, maka mau tak mau anda tak bisa golput. Anda terpaksa harus memilih, dengan cara memberikan pilihan pada caleg dari parpol lain yang anda anggap masih lebih baik dari parpol yang ingin anda “hukum” itu. Seperti dalam contoh di atas, parpol D terpaksa gigit jari karena tak mendapatkan kursi satu pun di Dapil I. Bagaimana jika aksi tidak memilih parpol D ini terjadi di Dapil I sampai Dapil V? Otomatis partai D sama sekali tak bisa mendudukkan wakilnya di DPRD Kota Sukasuka.


Sebaliknya, jika anda ingin menghukum salah satu caleg yang anda anggap sebagai politisi busuk, maka meski anda ingin mendukung partai tempat si caleg bernaung, jangan berikan suara anda bagi caleg tersebut, alihkan untuk caleg yang lain. 

Bagaimana kalau tak ada caleg yang sreg di hati? Bagaimana kalau tak ada caleg yang dikenal? Yup, itu adalah masalah kita bersama. Tapi tentu saja, setiap masalah akan ada alternatif solusinya. Bagaimana caranya?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar